Dalam siklus kehidupan masyarakat Hindu di Indonesia, khususnya di Bali, masa transisi pergantian tahun Saka ditandai dengan sebuah ritual besar yang dikenal sebagai Tawur Tilem Kesanga. Upacara ini bukan sekadar rutinitas seremonial yang mendahului Hari Raya Nyepi, melainkan sebuah manifestasi mendalam dari kesadaran manusia akan posisinya di tengah alam semesta. Secara etimologis, kata "Tawur" memiliki makna membayar atau mengembalikan. Hal ini mengandung filosofi bahwa selama satu tahun penuh, manusia telah mengambil begitu banyak sumber daya dari alam untuk bertahan hidup. Maka, pada hari Tilem Kesanga atau bulan mati yang kesembilan, manusia melakukan kewajiban moral untuk mempersembahkan kembali energi positif kepada alam sebagai bentuk "pembayaran" atas segala anugerah yang telah diterima.
Landasan filosofis dari ritual ini bersumber dari berbagai sastra suci, salah satunya adalah Lontar Sundarigama. Dalam teks tersebut dijelaskan bahwa Tilem Kesanga merupakan momen krusial untuk melaksanakan prosesi pengerupukan dan tawur. Secara teologis, tujuan utamanya adalah proses Nyomia Bhuta Kala, yaitu upaya menetralisir kekuatan-kekuatan destruktif atau energi negatif (Bhuta) agar berubah menjadi kekuatan yang harmonis dan konstruktif (Dewa). Sastra Hindu mengajarkan bahwa alam semesta atau Makrokosmos senantiasa bergejolak, dan melalui upacara Tawur ini, umat manusia berupaya mendinginkan suasana alam tersebut. Hal ini sejalan dengan ajaran dalam Lontar Bhamakertih yang menekankan pentingnya menjaga kesejahteraan bumi agar terhindar dari marabahaya dan penyakit yang disebabkan oleh ketidakseimbangan energi alam.
Selain itu, eksistensi Tawur Tilem Kesanga didukung oleh konsep yang tertuang dalam kitab suci Reg Veda melalui Purusha Sukta, yang menggambarkan alam semesta sebagai satu kesatuan tubuh yang suci. Segala unsur di alam, mulai dari tanah, air, api, udara, hingga eter, harus dihormati agar tetap stabil. Dalam konteks lokal di Nusantara, Lontar Agastya Parwa juga mempertegas bahwa setiap yadnya atau persembahan dilakukan demi mencapai Jagadhita, yaitu kesejahteraan duniawi yang selaras. Dengan melaksanakan Tawur, umat Hindu secara simbolis membersihkan lingkungan dari pengaruh negatif sebelum memasuki keheningan total pada hari Nyepi.
Secara psikologis dan sosial, Tawur Tilem Kesanga memberikan ruang bagi manusia untuk melakukan pembersihan batin secara kolektif. Dengan meredam pengaruh luar yang buruk, seseorang akan lebih siap secara mental untuk melaksanakan Catur Brata Penyepian dengan fokus dan ketenangan. Upacara ini mengajarkan manusia untuk tidak menjadi mahluk yang rakus terhadap alam, melainkan menjadi mahluk yang tahu berterima kasih. Melalui perpaduan antara ritual fisik, doa-doa suci dari para pendeta, dan landasan sastra yang kuat, Tawur Tilem Kesanga tetap menjadi pilar penting dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan, guna mewujudkan tatanan dunia yang damai dan seimbang di tahun yang baru.

إرسال تعليق