Melodi di Antara Dua Keheningan: Memaknai Siklus Penciptaan dan Kematian

 




Pertanyaan mengenai mengapa penciptaan harus ada jika pada akhirnya akan berujung pada kehancuran adalah salah satu perenungan terdalam yang pernah dihadapi manusia. Secara logika materialistik, sesuatu yang berakhir sering kali dianggap sebagai kesia-siaan. Namun, dalam kacamata filsafat Hindu, hubungan antara penciptaan (Utpatti) dan kematian (Pralina) bukan sekadar garis lurus yang berakhir di sebuah jurang, melainkan sebuah lingkaran suci yang terus berputar untuk menjaga keseimbangan alam semesta.

Jawaban pertama terhadap teka-teki ini terletak pada konsep Lila, atau permainan suci Tuhan. Alam semesta dipandang sebagai ekspresi kreatif dari Brahman yang tidak memiliki batas. Seperti seorang seniman yang melukis bukan karena ia kekurangan sesuatu, melainkan karena ia ingin mengekspresikan kebahagiaan batinnya, demikian pula dunia diciptakan. Dalam sebuah permainan atau tarian, keindahan tidak ditemukan pada titik berhentinya, melainkan pada setiap gerak dan irama yang dimainkan. Kematian, dalam konteks ini, hanyalah sebuah jeda atau akhir dari satu babak pertunjukan agar babak baru yang lebih segar dapat dimulai. Tanpa "akhir", sebuah simfoni tidak akan pernah menjadi karya yang utuh.

Lebih jauh lagi, kematian bukanlah pembatalan atas kehidupan, melainkan syarat mutlak bagi adanya pembaruan. Dalam ajaran Hindu, Dewa Siwa yang dikenal sebagai pelebur bukanlah simbol jahat, melainkan simbol kasih sayang. Beliau melebur yang tua, yang rusak, dan yang menderita agar ada ruang bagi penciptaan baru oleh Dewa Brahma. Bayangkan sebuah dunia tanpa kematian; kehidupan akan menjadi statis, sesak, dan kehilangan maknanya. Kematian memberikan "tekanan" yang sehat bagi jiwa manusia untuk menghargai setiap detik keberadaannya di dunia. Adanya batas waktu justru membuat setiap tindakan kebajikan (Dharma) menjadi sangat berharga.

Secara spiritual, proses penciptaan dan kematian adalah sarana bagi evolusi kesadaran (Atman). Tubuh fisik hanyalah kostum yang dikenakan oleh jiwa dalam sandiwara besar kehidupan. Kita dilahirkan untuk belajar, mengalami suka dan duka, serta menyadari hakikat sejati kita. Kematian adalah saat di mana jiwa melepaskan pakaian yang sudah usang untuk kemudian mengevaluasi diri sebelum mengambil wujud baru. Jika tidak ada penciptaan, jiwa akan tetap tertidur dalam keheningan tanpa pernah mengenal potensi keilahiannya. Sebaliknya, jika tidak ada kematian, jiwa akan terjebak dalam keterikatan materi yang tak berujung.

Sebagai simpulan, penciptaan dan kematian adalah dua sisi dari koin yang sama bernama Kehidupan. Kita diciptakan bukan untuk sekadar menunggu mati, melainkan untuk menarikan tarian eksistensi dengan sebaik-baiknya. Kematian hanyalah cara alam semesta untuk menarik napas sebelum mengembuskannya kembali dalam bentuk kehidupan yang baru. Dengan memahami bahwa esensi kita adalah jiwa yang kekal, maka penciptaan bukan lagi sebuah awal yang melelahkan, dan kematian bukan lagi akhir yang menakutkan, melainkan sebuah perjalanan pulang menuju kesadaran yang tertinggi.



Post a Comment

أحدث أقدم