Landasan pertama dari eksistensi manusia adalah Dharma. Kita lahir untuk menegakkan kebenaran dan menjalankan kewajiban sesuai dengan swadharma atau peran masing-masing. Seorang siswa yang belajar dengan tekun, seorang guru yang mendidik dengan tulus, atau seorang pemimpin yang adil, semuanya sedang menjalankan Dharma. Tanpa Dharma, kehidupan manusia akan kehilangan kompas moralnya, menyebabkan kekacauan baik bagi diri sendiri maupun alam semesta.
Namun, Hindu adalah ajaran yang realistis. Ia mengakui bahwa untuk hidup di dunia, manusia memerlukan sarana. Itulah mengapa Artha (kesejahteraan) dan Kama (keinginan/kesenangan) diakui sebagai tujuan hidup yang sah. Manusia didorong untuk mencari kemakmuran dan menikmati keindahan hidup, asalkan semuanya tetap dipandu oleh koridor Dharma. Artha yang diperoleh dengan cara yang benar tidak hanya menghidupi diri sendiri, tetapi juga menjadi alat untuk melakukan kebajikan dan membantu sesama.
Lebih jauh lagi, kelahiran berulang atau reinkarnasi dipahami sebagai "sekolah besar" bagi jiwa (Atman). Setiap masa kehidupan adalah satu semester baru di mana kita memanen hasil perbuatan masa lalu dan menanam benih perbuatan baru melalui hukum Karma. Tujuan akhirnya adalah lulus dari sekolah kehidupan ini menuju Moksha, yaitu kebebasan abadi dari lingkaran penderitaan dan penyatuan kembali antara percikan kecil jiwa dengan sumber agung-Nya, Brahman.
Sebagai simpulan, hidup manusia adalah sebuah pendakian yang berkelanjutan. Kita lahir bukan hanya untuk sekadar ada, melainkan untuk berproses. Seperti kutipan suci dalam Sarasamuccaya, menjadi manusia adalah kesempatan untuk menolong diri sendiri dari kesengsaraan dengan jalan berbuat baik. Dengan memegang teguh prinsip "Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma", kita diingatkan bahwa kesuksesan di dunia (Jagadhita) dan kedamaian spiritual (Moksha) dapat dicapai secara beriringan jika setiap langkah kita senantiasa berpijak pada kebajikan.

إرسال تعليق