Ringkasan Sejarah Arya Dauh Bale Agung: Kesetiaan dan Tragedi di Kerajaan Gelgel

 

1. Masa Keemasan di Bawah Dalem Waturenggong

Pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong (1460-1550), Kerajaan Gelgel mencapai puncak kejayaannya sebagai pusat otoritas tertinggi di Bali. Stabilitas politik dan kesejahteraan rakyat tercapai berkat kepemimpinan sang Raja yang didampingi oleh para menteri yang kapabel. Salah satu tokoh sentral kala itu adalah Rakryan Patih Penulisan Dauh Bale Agung.

Dalam struktur pemerintahan modern, peran beliau setara dengan Sekretaris Negara. Selain sebagai birokrat ulung, beliau adalah seorang Rakawi (pujangga sastra) yang melahirkan karya-karya monumental seperti Arjuna Pralabda dan Wukir Pedelegan. Beliau juga merupakan seorang rohaniwan (Bhagawan) setelah menerima penyucian (diksha) dari Dang Hyang Nirartha.

2. Silsilah dan Asal-Usul Arya Dauh

Garis keturunan ini bermula dari Sira Nararya Kapakisan, salah satu Arya yang menyertai ekspedisi Gajah Mada ke Bali pada tahun 1352. Berikut adalah urutan silsilah utamanya:

Sira Nararya Kapakisan
Sira Nararya Nyuh Aya
Pangeran Akah
Rakryan Panulisan Dauh Bale Agung
Rakryan Pande Basa
I Gusti Wayahan Byasama (menikah dengan I Gusti Ayu Singharsa)
I Gusti Abian Nengah (I Gusti Dauh Ring Ayun)

3. Kemunduran Gelgel dan Tugas Rahasia

Pasca wafatnya Dalem Waturenggong, takhta jatuh ke tangan Dalem Bekung (1550-1580). Berbeda dengan ayahnya, kepemimpinan Dalem Bekung cenderung lemah, memicu intrik dan pemberontakan di lingkungan istana. Salah satu konflik dipicu oleh skandal asmara antara I Gusti Ngurah Telabah dengan istri raja, I Gusti Ayu Samantiga.

Dalem Bekung yang murka kemudian memberikan mandat rahasia kepada Rakryan Pande Basa untuk melenyapkan I Gusti Ngurah Telabah. Tugas ini sangat berisiko karena Ngurah Telabah memiliki pengaruh yang luas. Melalui siasat cerdik yang melibatkan seorang abdi bernama Ki Capung, I Gusti Ngurah Telabah akhirnya berhasil dibunuh di istananya sendiri.

4. Perang Puputan Keluarga Dauh Pande Basa

Rahasia pembunuhan tersebut akhirnya terbongkar akibat kecerobohan Ki Capung, yang kemudian memicu kemarahan putra Ngurah Telabah, yaitu I Gusti Kanca. Dalem Bekung, yang ketakutan, justru mengingkari janjinya kepada Rakryan Pande Basa dan membiarkan keluarga Patih tersebut diserang.

Menghadapi situasi ini, Rakryan Pande Basa memilih jalur ksatria. Atas restu ayahnya, Rsi I Gusti Dauh Bale Agung, beliau memilih berperang daripada menanggung aib sumpah (haricandana). Terjadilah pertempuran tidak seimbang di mana keluarga besar Rakryan Pande Basa gugur dalam aksi Perang Puputan. Meski hancur secara fisik, semangat kesetiaan mereka tetap dikenang dalam sejarah.

5. Penyelamatan Warih (Garis Keturunan)

Di tengah kehancuran tersebut, satu-satunya harapan bagi garis keturunan Arya Dauh adalah I Gusti Ayu Singharsa yang saat itu tengah hamil tua. Beliau berhasil diselamatkan oleh ayahnya, I Gusti Ngurah Sideman, dan disembunyikan di kawasan hutan Bukit Buluh (Sibetan).

Di tempat persembunyian ini, lahirlah seorang putra bernama I Gusti Abian Nengah (I Gusti Dauh Ring Ayun). Kelahiran ini menjadi titik balik bagi kelanjutan trah Arya Dauh. Setelah dewasa, beliau dinobatkan sebagai penguasa di Sibetan sekitar tahun 1600 Masehi.

6. Pura Garbha dan Pelestarian Tradisi

Sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan rasa syukur atas kelanjutan garis keturunan, I Gusti Abian Nengah mendirikan Pura Garbha di Bukit Buluh. Hingga saat ini, setiap keturunan (Warih) Arya Dauh memiliki kewajiban moral untuk menjaga dan memuja di Pura Garbha sebagai simbol pembayaran utang budi (Pitrarnam) kepada para leluhur yang telah berkorban demi tegaknya kebenaran dan kesetiaan.

sumber : http://cockscomb-bona.blogspot.com/2011/11/babad-arya-dauh-bale-agung.html

Post a Comment

Previous Post Next Post