1. "Panca Yadnya": Pengabdian dalam Ritual
Tugas pertama dan utama wanita Bali di rumah suami adalah sebagai pelaksana ritual keagamaan. Setiap harinya, sebelum matahari meninggi, ia sudah harus menyiapkan banten saiban (sesajen harian). Di hari-hari besar seperti Galungan, Kuningan, atau piodalan di pura, beban kerja ini meningkat berkali-kali lipat. Ia harus mampu membuat jejahitan janur yang rumit sambil tetap mengurus keperluan domestik. Di sini, ketangguhan fisik dan mental diuji; ia adalah "manajer spiritual" yang memastikan hubungan keluarga dengan Tuhan dan leluhur tetap harmonis.
2. Pilar Ekonomi Keluarga
Jarang sekali kita menemukan wanita Bali yang berdiam diri. Di pasar-pasar tradisional, di sawah, hingga di sektor pariwisata, wanita Bali bergerak aktif mencari nafkah. Hebatnya, peran sebagai pencari nafkah ini dilakukan tanpa menanggalkan kewajiban di dapur atau di sanggah (tempat suci keluarga). Ia adalah sosok yang mandiri, sering kali menjadi penyokong finansial utama ketika kebutuhan adat—yang memerlukan biaya tidak sedikit—datang bertubi-tubi.
3. Adaptasi dalam Lingkungan Sosial (Banjar)
Masuk ke rumah suami berarti masuk ke dalam lingkungan Banjar yang baru. Wanita Bali dituntut memiliki kecakapan sosial yang tinggi. Ia harus pandai "mabanjar", yaitu berinteraksi dan bergotong-royong dengan tetangga dalam kegiatan adat (ngayah). Kemampuan untuk menyeimbangkan antara ego pribadi dengan kepentingan komunal di rumah mertua adalah bukti nyata dari kekerasan mental dan kelembutan hati yang ia miliki.
4. Beban Ganda dan Kekuatan yang Tersembunyi
Istilah "keras" bagi wanita Bali bukanlah merujuk pada watak yang kasar, melainkan pada daya juang yang tidak kenal lelah. Ia sering kali menjadi orang pertama yang bangun dan orang terakhir yang tidur. Ia harus menyeimbangkan tiga peran sekaligus: sebagai ibu yang mendidik anak, istri yang melayani suami, dan menantu yang berbakti pada mertua serta adat istiadat.
Kesimpulan
Kehidupan wanita Bali di rumah suami adalah potret nyata dari sebuah dedikasi. Ia adalah sosok yang "keras" dalam prinsip dan kerja keras, namun tetap lembut dalam balutan etika dan tradisi. Ketangguhannya bukan lahir dari ketiadaan beban, melainkan dari kemampuan untuk memikul beban tersebut dengan rasa syukur dan tanggung jawab demi keberlangsungan tradisi dan kesejahteraan keluarga.
Wanita Bali tidak hanya menjaga api di dapur tetap menyala, tetapi juga menjaga api spiritualitas dan kebudayaan Bali agar tetap ajeg (kokoh) di tengah perubahan zaman.

Post a Comment