Perempuan: Poros Peradaban dan Cermin Martabat Keluarga

Dalam lintasan sejarah dan sastra epik, wanita sering kali digambarkan sebagai pusat gravitasi sebuah keluarga dan bangsa. Di balik kelembutannya, tersimpan kekuatan yang mampu membangun kemuliaan atau sebaliknya, memicu kehancuran besar. Baik dan buruknya martabat sebuah keluarga sering kali bergantung pada dua sisi mata uang: bagaimana seorang wanita menjaga ucapan dan tindakannya, serta bagaimana laki-laki memperlakukan mereka.



1. Ucapan yang Menggetarkan Dunia: Belajar dari Epos

Sejarah mencatat bahwa kata-kata yang keluar dari lisan seorang wanita memiliki daya magis yang luar biasa. Dalam epos Mahabharata, salah satu pemicu ketegangan adalah ucapan Dropadi yang (dalam beberapa versi) sempat menyinggung Duryudana saat terjatuh di istana Indraprastha. Meski merupakan reaksi atas kesombongan, ucapan tersebut menjadi api dalam sekam yang membakar dendam.

Hal ini mengajarkan bahwa kontrol diri atas ucapan adalah bentuk kekuatan, bukan kelemahan. Seorang wanita yang mampu menjaga ucapannya adalah penjaga kedamaian rumah tangga. Namun, hal ini harus berjalan selaras dengan kebijaksanaan; ucapan wanita juga bisa menjadi cambuk kebenaran yang menuntut keadilan.

2. Tragedi Akibat Ketidakadilan terhadap Wanita

Perang besar dalam Ramayana dan Mahabharata bukanlah perang perebutan harta semata, melainkan perang untuk menegakkan martabat wanita yang dihinakan.

  • Perang Alengka meletus karena Rahwana tidak menghormati kedaulatan Dewi Sita.

  • Perang Bharatayudha mencapai puncaknya karena penghinaan terhadap Dropadi di balairung judi, di mana ia dilecehkan di depan umum sementara para tetua diam membisu.

Kedua peristiwa ini mengirimkan pesan moral yang keras: ketika seorang wanita atau istri diperlakukan secara tidak adil, maka kehancuran struktur sosial hanyalah tinggal menunggu waktu. Ketidakadilan terhadap wanita adalah pelanggaran terhadap Dharma (kebenaran), dan alam semesta cenderung bergerak secara ekstrem untuk memulihkan keseimbangan tersebut melalui konflik.

3. Wanita sebagai Penentu Warna Keluarga

Ada pepatah yang mengatakan bahwa "Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya." Perilaku seorang istri atau ibu menentukan suasana batin sebuah rumah. Jika seorang wanita berperilaku dengan penuh kebajikan (Susila), maka rumah tersebut akan memancarkan cahaya ketenangan.

Namun, tanggung jawab ini tidak berdiri sendiri. Kualitas perilaku wanita sering kali merupakan refleksi dari bagaimana ia diperlakukan oleh suaminya. Seorang istri yang dicintai, dihormati, dan diberi rasa aman akan lebih mudah memancarkan energi positif bagi keluarganya. Sebaliknya, wanita yang terus-menerus mengalami penindasan akan menyimpan luka yang, jika meledak, dapat meruntuhkan pilar-pilar rumah tangga.

4. Keselarasan Tindakan dan Penghormatan

Dalam tradisi luhur, disebutkan bahwa di mana wanita dihormati, di sanalah dewa-dewa akan memberkati. Peranan wanita untuk menjaga tindakan dan ucapan bukanlah bentuk pengekangan, melainkan bentuk penjagaan terhadap "taksu" atau kesucian diri. Namun, masyarakat dan keluarga juga memiliki kewajiban mutlak untuk memberikan ruang keadilan bagi mereka. Perang besar di masa lalu membuktikan bahwa air mata wanita yang teraniaya adalah kutukan bagi sebuah peradaban.

Post a Comment

Previous Post Next Post